
Rumah tanpa Anti Rayap menjadi makanan empuk....
Pengetahuan mengenai morfologi dan perilaku rayap dirasakan sangat penting untuk diketahui oleh masyarakat. Rayap merupakan hama perusak bangunan yang menjadi momok paling menakutkan. Kerusakan hebat yang diakibatkan serangan rayap telah banyak dikeluhkan oleh masyarakat pemilik property. Sebenarnya tidak hanya property saja yang menjadi sasaran hama ini, produk komersialpun tak luput dari incarannya. Maka, keberadaan rayap-pun mutlak harus dikendalikan.
Untuk menghasilkan pengendalian rayap yang efektif dan tepat sasaran, kita dituntut memahami pola prilaku, morfologi, behavior, siklus, jangkauan serangan, dan jenis rayap. Hal ini berkaitan dengan strategi “perang” yang akan dilakukan dalam menaklukan hama rayap. Oleh karena itu, seorang serviceman Jasa Anti Rayap “wajib” menguasai morfologi rayap.
Kepustakaan mengenai rayap sudah ada sejak akhir abad ke-19, tetapi terutama berkembang selama abad ke-20. Di antara peneliti dan penulis penting yang memberikan keterangan menyeluruh adalah : Kofoid (1946) dan Krishna dan Weesner (1970). Masyarakat umum juga sudah memaklumi bahwa rayap adalah serangga yang merugikan karena merusak (makan) kayu. Ini tergambar dalam pepata lama : “bak kayu dimakan rayap” yang mengungkapkan kehancuran, kelemahan atau deteriorasi — atau — “anai-anai makan di bawah” — mengungkapkan proses kerusakan yang tak tampak atau tersembunyi. Kedua ungkapan ini diambil dari aspek-aspek biologi dan perilaku rayap yaitu: rayap makan kayu dan hidupnya tersembunyi (kriptobiotik).
Peran tradisional rayap sebagai decomposer bahan organic tersebut telah dinyatakan dalam Sabda Tuhan “Maka tatkala kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya … (Q.S. 34 : 15 ). Informasi Tuhan tersebut menstabilkan rayap sejak awal mula kehadirannya sebagai organisme pemakan kayu (bahan organic).
Di seluruh dunia jenis-jenis rayap yang telah dikenal (dideskripsikan dan diberi nama) ada sekitar 2000 spesies (dari padanya sekitar 120 spesies merupakan hama), sedangkan di negara kita dari kurang lebih 200 spesies yang dikenal baru sekitar 20 spesies yang diketahui berperan sebagai hama perusak kayu serta hama hutan/pertanian.
Rayap tubuhnya memang kecil, tetapi memiliki kekuatan yang dahsyat untuk menghancurkan sebuah bangunan. Belum banyak yang mengetahui cara pencegahan dan pengendaliannya. Karena semakin lama rayap dibiarkan dilingkungan anda, maka semakin besar kemungkinan mereka mengakibatkan kerusakan yang lebih jauh lagi.
Rayap merupakan jenis serangga yang tidak asing lagi ditelinga kita, yang selalu dikaitkan dengan “ si perusak “ keberadaannya sangat menyeramkan dan dengan gerakan komunitinya dapat meruntukan bagian rumah atau gedung.
Di Indonesia khususnya di DKI Jakarta kecenderungan serangan rayap semakin tinggi pada bangunan gedung, bukan hanya yang berfungsi sebagai hunian tetapi juga pada bangunan gedung bertingkat untuk fungsi usaha seperti perkantoran, apartement, hotel, dan pusat perbelanjaan. Bahkan beberapa gedung di DKI menunjukkan sudah mulai atau pernah digerogoti rayap tanah, seperti Gedung Bina Graha Jakarta, Museum Gajah, Purna Bakti Pertiwi, Gereja Immanuel, Masjid At-Tin, Masjid Manggala Wanabhakti serta beberapa bangunan gedung sekolah dan lebih dari 10 apartemen bertingkat di daerah Simprug, HR Rasunan Said, Semanggi, Menteng, dan Kelapa Gading.
Salah satu penyebab bergerak cepatnya penyebaran rayap di DKI adalah, karena hampir seluruh daerah di ibu kota ini, berada pada dataran rendah dengan suhu yang sangat hangat dan kelembaban yang tinggi sehingga kondisi lingkungan ini sangat disukai oleh beberapa jenis rayap. Hal ini adalah pengaruh lahan-lahan yang ada berupa tanah merah gembur dan bekas pertanian, di mana 90 persen mengandung populasi rayap yang tinggi.
Tidak tanggung-tanggung menurut data kerugian ekonomis yang dialami Indonesia sampai pada tahun 2000 akibat rayap mencapai angka Rp. 2.67 trillun, serta rata – rata persentase serangan rayap pada bangunan perumahan di kota -kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Batam mencapai angka 70% lebih, angka tersebut akan semakin bertambah melihat kecenderungan terakhir ini, bahwa nilai kerugian akibat rayap setiap tahunnya meningkat sekitar lima persen seiring meningkatnya pembangunan gedung, terutama gedung bertingkat yang ada di Jakarta.
RAYAP DAPAT MENEMBUS TEMBOK
Rayap merupakan serangga berukuran kecil yang hidup berkelompok denga sistem kasta yang berkembang sempurna. Serangga ini masuk dalam ordo isoptera ( dari bahasa Yunani, iso = sama dan ptera = sayap ). Dijelaskan, dalam biosfera, pada dasarnya rayap merupakan bagian dari komponen lingkungan biotik yang memainkan peranan penting, seperti dapat membantu manusia menjaga keseimbangan alam dengan cara menghancurkan kayu untuk mengembalikannya sebagian unsur hara dalam tanah. Namun karena perubahan kondisi habitat akibat aktifitas manusia, sangat potensial mengubah status rayap menjadi serangga hama yang merugikan.
Seperti halnya pemanfaatan lahan dari areal perkebunan menjadi daerah pemukiman, telah mengakibatkan habitat alami rayap terganggu dan mencari sumber makanan baru berupa kayu atau material berselulosa lain yang terdapat pada bangunan gedung, sebagai contoh, berbagai kasus serangan rayap pada bangunan gedung di DKI Jakarta banyak terjadi di daerah bekas perkebunan karet.
Serangga ini memang tidak mengenal kompromi dan melihat kepentingan manusia, dengan merusak mebel, buku-buku, kabel-kabel listrik, telepon, serta barang-barang yang disimpan. Untuk mencapai sasarannya, rayap tanah dapat menembus tembok yang tebalnya beberapa sentimeter.
Serta apapun bentuk konstruksi bangunan gedung, seperti slab, basement atau crawl space, dapat ditembusnya lewat lubang terbuka atau celah sekecil satu per-enam empat inci. Baik celah pada slab di sekitar celah kayu atau pipa ledeng, serta celah antara pondasi dan tembok, maupun pada kuda – kuda atap. Atau rayap juga dapat membuat lubang di atas pondasi, terus ke atas hingga mencapai kuda – kuda dan di seluruh permukaan tembok.
Beberapa faktor pendorong serangan rayap pada bangunan, antara lain banyaknya kayu yang tertimbun di dalam tanah saat pembangunan, adanya celah pada pondasi tembok, sistem ventilasi kurang baik, kayu yang berhubungan langsung dengan tanah, dan kondisi bio-fisik tapak bangunannya itu sendiri yag menguntungkan kehidupan rayap.
Bagian komponen bangunan yang rawan terhadap serangan rayap adalah balkon, teras, sambungan talang air hujan, kerangka atap, ventilasi, hubungan antara dinding bata dan ampik kayu, serta hubungan antara dinding bata dan atap. Juga sudut dinding, hubungan sudut antara kusen dan dinding batu, pasangan dinding batu yang berhubungan dengan bak bungan, retak – retak pada dinding bata, serta hubungan antara dinding dengan pondasi.
HARUS DILAKUKAN PADA TAHAP KONSTRUKSI
Untuk menanggulangi dan mengurangi tingkat kerugian akibat serangan rayap pada gedung – gedung public, maka berdasar Undang – Undang No. 28/2002 tentang bangunan gedung Pasal 18 Ayat 1 dikatakan bahwa setiap bangunan harus tahan terhadap kerusakan yang diakibatkan oleh gangguan alam, seperti gempa bumi, longsor, dan serangga perusak.
Untuk itu harus didukung ketetapan pemerintah yang dijalankan secara ketat mengenai persyaratan teknis bangunan gedung khususnya ketentuan tentang pencegahan dan pengendalian terhadap serangan rayap, yang merupakan bagian dari Peraturan Daerah tentang Bangunan Gedung, dimana ketentuan tersebut bukan hanya mengatur proses IMB / retribusi tapi juga harus diikuti dan ditindaklanjuti upaya pembinaan dan pemberdayaan masyarakat akan pentingnya keselamatan bangunan gedung.
Secara umum penanggulangan bahaya rayap harus dimulai pada tahap prakonstruksi untuk mencegah masuknya rayap ke dalam bangunan gedung. Tindakan penanggulangan bahaya rayap prakonstruksi dapat dilakukan dengan pendekatan rancang bangun gedung tahan rayap, penggunaan kayu awet atau diawerkan melalui tindakan pengawetan kayu, dan pemberian perlakuan tanah sebagai penghalang kimia.
Hal ini adalah harus adanya peningkatan dalam penelitian yang dilakukan oleh badan litbang instansi terkait, mengenai klasifikasi kayu sebagai bahan bangunan yang tahan terhadap serangan rayap, baik jenis kayunya maupun setelah jenis kayu tersebut dilakukan treatment khususnya untuk menaggulangi bahaya serangan rayap.
Jika bandingkan antara biaya anti rayap dengan jumlah uang yang dikeluarkan untuk pembelian kayu untuk kusen, pintu, jendela, dan konstruksi plafon / atap, maka biaya anti rayap sangat kecil. Namun demikian semua itu akan menjadi sangat murah jika service tersebut dilakukan sebelum mendapat serangan rayap. Mengapa ? karena jika dilakukan sebelum muncul serangan rayap, hanya akan terbebani oleh biaya anti rayap saja.
Seandainya anti rayap dilakukan setelah mendapat serangan rayap, maka harus mengeluarkan biaya perbaikan / renovasi terhadap kerusakan yang telah terjadi.
Bebas dari serangan rayap berarti rutinitas aktifitas tidak akan terganggu. Mengapa tidak mengantisipasi serangan rayap sedini mungkin daripada dibuat pusing kemudian? Mencegah lebih murah dari pada membasmi.
KASTA RAYAP
Ada 3 Jenis Kasta Rayap
1. Rayap Kasta Reproduksi

Kasta Reproduktif
Terdiri atas individu-individu seksual yaitu rayap betina (yang abdomennya biasanya sangat membesar) yang tugasnya hanya bertelur dan jantan (raja) yang tugasnya membuahi betina. Raja sebenarnya tak sepenting ratu jika dibandingkan dengan lamanya ia bertugas karena dengan sekali kawin, betina dapat menghasikan ribuan telur; lagipula sperma dapat disimpan oleh betina dalam kantong khusus untuk itu, sehingga mungkin sekali tak diperlukan kopulasi berulang-ulang. Jika koloni rayap masih relatif muda biasanya kasta reproduktif berukuran besar sehingga disebut ratu. Biasanya ratu dan raja adalah individu pertama pendiri koloni, yaitu

Laron/Alates
sepasang laron yang mulai menjalin kehidupan bersama sejak penerbangan alata. Pasangan ini disebut reprodukif primer. Jika mereka mati bukan berarti koloni rayap akan berhenti bertumbuh. Koloni akan membentuk “ratu” atau “raja” baru dari individu lain (biasanya dari kasta pekerja) tetapi ukuran abdomen ratu baru tak akan sangat membesar seperti ratu asli. Ratu dan raja baru ini disebut reproduktif suplementer atau neoten. Jadi, dengan membunuh ratu atau raja kita tak perlu sesumbar bahwa koloni rayap akan punah. Bahkan dengan matinya ratu, diduga dapat terbentuk berpuluh-puluh neoten yang menggantikan tugasnya untuk bertelur. Dengan adanya banyak neoten maka jika terjadi bencana yang mengakibatkan sarang rayap terpecah-pecah, maka setiap pecahan sarang dapat membentuk koloni baru.
2. Kasta Prajurit / Soldier.

Rayap Prajurit
Kasta ini ditandai dengan bentuk tubuh yang kekar karena penebalan (sklerotisasi) kulitnya agar mampu melawan musuh dalam rangka tugasnya mempertahankan kelangsungan hidup koloninya. Mereka berjalan hilir mudik di antara para pekerja yang sibuk mencari dan mengangkut makanan. Setiap ada gangguan dapat diteruskan melalui “suara” tertentu sehingga prajurit-prajurit bergegas menuju ke sumber gangguan dan berusaha mengatasinya. Jika terowongan kembara diganggu sehingga terbuka tidak jarang kita saksikan pekerja-pekerja diserang oleh semut sedangkan para prajurit sibuk bertempur melawan semut-semut, walaupun mereka umumnya kalah karena semut lebih lincah bergerak dan menyerang. Tapi karena prajurit rayap biasanya dilengkapi dengan mandibel (rahang) yang berbentuk gunting maka sekali mandibel menjepit musuhnya, biasanya gigitan tidak akan terlepas walaupun prajurit rayap akhirnya mati. Mandibel bertipe gunting (yang bentuknya juga bermacam-macam) umum terdapat di antara rayap famili Termitidae, kecuali pada Nasutitermes ukuran mandibelnya tidak mencolok tetapi memiliki nasut (yang berarti hidung, dan penampilannya seperti “tusuk”) sebagai alat penyemprot racun bagi musuhnya.
3. Kasta Pekerja / Worker.

Rayap Pekerja
Kasta ini membentuk sebagian besar koloni rayap. Tidak kurang dari 80 persen populasi dalam koloni merupakan individu-individu pekerja. Tugasnya melulu hanya bekerja tanpa berhenti hilir mudik di dalam liang-liang kembara dalam rangka mencari makanan dan mengangkutnya ke sarang, membuat terowongan-terowongan, menyuapi dan membersihkan reproduktif dan prajurit, membersihkan telur-telur, dan — membunuh serta memakan rayap-rayap yang tidak produktif lagi (karena sakit, sudah tua atau juga mungkin karena malas), baik reproduktif, prajurit maupun kasta pekerja sendiri.Tidak perlu bersusah payah mencari RATU RAYAP untuk mengendalikan populasi rayap, cukup dengan mengendalikan Rayap Pekerja ( yang menyerang rumah ) secara OTOMATIS suplai makanan ke RATU akan berhenti dan RATU akan mati..!!!!
Mengapa Rayap perlu dikendalikan…!!!
Banyak yang bilang, rayap bekerja 24 jam, 7 hari seminggu, dan 54 minggu dalam setahun. Tidak pernah berhenti. Yang bisa dilakukan kini adalah menghalau kedatangan mereka.
Mau tahu menu “4 sehat 5 sempurna” rayap? Selain rumput dan dedaunan yang sudah mati, hewan koloni itu juga makan kayu. Dengan makanan itu, rayap tumbuh sehat, mencerna selulosa yang dikandung kayu dan dedaunan mati. Selulosa adalah polisakarada karbohidrat dari beta-glukosa yang kaya energi.
Jelas, menu itu adalah makanan lezat dan bergizi untuk kawanan rayap. Mereka akan terus mencarinya di mana pun tinggal. Karena yang diincar adalah kayu mati, manusia patut waspada, terutama yang rumahnya mayoritas tersusun dari kayu. Rayap sanggup meruntuhkan bagian rumah atau gedung sekalipun!
Karenanya, demi keselamatan gedung, pemerintah bahkan telah memberlakukan UU No28/2002 tentang Bangunan Gedung. Pada Pasal 18 Ayat 1 dinyatakan bahwa setiap bangunan harus tahan terhadap kerusakan yang diakibatkan gangguan alam, seperti gempa bumi, longsor, dan serangga perusak.
Undang-undang itu ditetapkan berdasarkan pengalaman. Dari data kerugian ekonomis, hingga akhir tahun 2000, rayap mengakibatkan kerugian hingga Rp2,67 triliun, dengan rata-rata persentase serangan pada bangunan mencapai angka 70 persen lebih. Setiap tahun meningkat sekitar 5 persen. Luar biasa.
So, mengapa rayap begitu eksis? Alasan utama adalah perubahan kondisi habitat akibat aktivitas manusia, sangat potensial mengubah status rayap menjadi serangga hama merugikan. Misalnya pemanfaatan lahan dari areal perkebunan menjadi daerah pemukiman. Kawasan ini berpotensi diserang rayap.
Habitat alami rayap yang terganggu membuat mereka mencari sumber makanan baru berupa kayu atau material berselulosa lain yang terdapat pada bangunan. Penyebab lain penyebaran rayap adalah lokasi yang berada pada dataran rendah dengan suhu hangat dan kelembapan tinggi. Kondisi lingkungan ini sangat disukai beberapa jenis rayap. Tanah merah gembur dan bekas tanaman, ditengarai 90 persennya mengandung populasi rayap cukup tinggi.
Untuk bisnis properti, rayap adalah musuh bebuyutan. Tidak waspada berarti roboh. Serangga ini tak kenal kompromi dan melihat kepentingan manusia. Mereka akan dengan mudah merusak assesories kayu, rangka kayu, kusen, kicthen set, parquet, mebel, gypsum, tekstil, kardus, buku-buku, kabel-kabel listrik, telepon, dan barang-barang yang disimpan.
Untuk mencapai sasarannya, rayap tanah dapat menembus tembok yang tebalnya beberapa sentimeter. Apa pun bentuk konstruksi bangunan gedung, seperti slab, basement atau crawl space, dapat ditembusnya lewat lubang terbuka atau celah sekecil seperenam belas inci.
Beberapa faktor pendorong serangan rayap pada bangunan antara lain banyaknya kayu yang tertimbun di dalam tanah saat pembangunan. Lalu, adanya celah pada fondasi tembok, sistem ventilasi kurang baik, kayu yang berhubungan langsung dengan tanah, hingga kondisi biofisik tapak bangunan yang menguntungkan kehidupan rayap.
Sekarang, yang perlu dipikirkan adalah menanggulanginya. Ada beberapa langkah untuk menghadang datangnya hewan ini.
Menurut Entomologist BRASTO bangunan akan semakin rentan akan rayap, manakala :
- Sisa-sisa pohon yang ditebang masih ada pada area bangunan rumah.
- Tanah pada area bangunan merupakan bekas area yang ditanami tanaman tahunan ( pohon karet, pohon sengon, pohon nangka dll )
- Tanah urugan berisi potongan papan dan kayu dari struktur bangunan yang tertimbun pada saat pembangunan awal.
- Struktur kayu atau misalkan kusen langsung menyentuh lantai.
Cara lain yang efektif adalah membuat benteng di bagian fondasi. Caranya dengan mencampur bahan fondasi dengan termitisida ( obat anti rayap ). Dengan campuran bahan ini, rayap tidak akan mau menembus fondasi karena bahan itu tahan pencucian (persisten) serta memiliki afinitas dengan tanah. Salah satu cara menyebarnya populasi rayap yaitu dengan migrasinya laron untuk mencari tempat yang layak untuk bereproduksi. Anti Rayap yang efektif harus meninggalkan residual efek yang mampu mengantisipasi invasi rayap. Obat Anti Rayap yang diaplikasikan oleh Jasa Anti Rayap merupakan bahan yang sudah direkomendasikan oleh Dinas Pertanian. Jadi pemakai Jasa ini tidak perlu kawatir akan bahaya pencemaran yang yang ditimbulkan. ( Asalkan dilakukan oleh tenaga profesional )
Jika memang rayap sudah terlanjur menyerang, langkah yang harus dilakukan secepatnya adalah melakukan perlakuan ”Anti Rayap“ yang dilakukan oleh tenaga profesional dari Jasa Anti Rayap.